Trend Setter : Antara produsen, distributor dan konsumen

Bila kita mengikuti perkembangan trend busana dari waktu ke waktu, maka ada saatnya model tertentu menjadi trend sehingga mengalami booming, artinya model busana tersebut diterima pasar secara luas yang dibarengi produksi yang meningkat. Kita ambil contoh misalnya pada tahun 2004, Busana Pashmina yang terbuat dari bahan selendang meledak luar biasa terutama sangat diminati kalangan ibu-ibu, kemudian tahun 2005 merupakan masa emas pakaian muslim anak yang banyak dipengaruhi oleh tayangan salah satu stasiun televisi yang menyajikan pildacil, tahun 2006 model kimono yang mengambil pola pakaian tidur menjadi trend dan sangat diminati oleh kalangan remaja, dewasa bahkan juga ibu-ibu. Dan di pertengahan tahun 2007 muncul trend yang didominasi variasi batu.

Dari fenomena trend yang terjadi, maka akan timbul pertanyaan sebenarnya siapakah yang menentukan trend ? Produsen ( termasuk di dalamnya designer ), distributor atau konsumen ?

Produsen berperan dalam menciptakan design, apa yang dihasilkan atau diproduksi belum tentu sesuai dengan harapan sehingga dibutuhkan kecermatan dalam membaca selera konsumen, karena konsumen belum tentu mau memakainya. Setiap hari banyak sekali model-model baru yang bermunculan, apakah semuanya laris manis ? Tentu tidak, tetapi ada kemungkinan satu atau dua yang bakal menjadi trend. Sebenarnya produsen bisa saja memaksakan hasil karyanya menjadi trend, misalnya melalui iklan yang jor-joran, tetapi tidak mudah untuk sebuah pertimbangan  bisnis, selain cost yang harus di bayar juga waktu yang harus tersita, karena menjadikan trend setter sangat berbeda dengan menciptakan brand image.

Dibandingkan dengan peran produsen di atas maka peran distributor ( penjual ) lebih independen karena lebih berperan untuk menjembatani antara produsen dan konsumen. Dari sekian banyak model yang dihasilkan oleh para produsen, maka dibutuhkan kejelian untuk menentukan pilihan, produsen mana yang memproduksi model yang fashionable dan lebih acceptable. Itulah tantangan distributor untuk melakukan penetrasi pasar.

Kemudian peran konsumen adalah sebagai jawaban atas kebimbangan para produsen dan distributor dalam menentukan selera pasar. Produk yang terserap pasar secara luas sehingga produsen memproduksi secara massal itulah yang akan menjadi trend setter. Pertanyaan lain yang timbul adalah : karena banyak yang menggunakan maka banyak diproduksi ataukah karena produksi yang banyak maka banyak yang menggunakan ?

Tanpa produsen, produk tidak pernah ada, tanpa distributor produk dari produsen tidak akan sampai ke tangan konsumen dan tanpa konsumen semuanya akan sia-sia.

Lalu dari paparan di atas, siapakah yang menentukan sebuah model menjadi trend atau trend setter ? Produsen, distributor atau konsumen ?

Silahkan para pembaca menyimpulkan sendiri. 

Penulis : Hans ( Owner Sumber-Pakaian.com - Grosir Pakaian Online)

~ oleh hanslim di/pada Maret 18, 2008.

3 Tanggapan to “Trend Setter : Antara produsen, distributor dan konsumen”

  1. menurutku sie konsumen,, soalnya walaupun produsen buat model kya ap juga, klo konsumennya g minat.. y g laku dunk,,

  2. kalau bisa bahan yang ditampilkan di kelompokkan satu persatu

    makasih…!

  3. [...] reaksi psikologis orang lain. Apalagi jika seseorang yang sangat terkenal, ia bahkan dapat menjadi trend setter dari gaya hidup dan penampilan,bahakn bayak fans-nya yang berbondong-bondong mengikuti gayanya. [...]

Tinggalkan Balasan